Lirik dan Makna Syiir Tanpo Waton

Penyanyi / Pencipta : Alm KH Abdurrahman Wahid,mantan presiden RI ke empat.
Jumlah Syiir : 14 bait
Syiir tersebut di ciptakan oleh KH Mohammad Nizam As-Shofa yang merupakan pengasuh ponodk pesantren Ahlus-Shofa Wal-Wafa yang beralamat di Desa simoketawang Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. namun dari segi suara,tidak bisa dibedakan yang mana suara Gus Dur dan yang mana suara Gus Nizam. mungkin persamaan suaralah yang menyebabkan sebagian orang meyakini bahwa syiir tanpo waton merupakan ciptaan Gus Dur.

Lirik dan Makna Syiir Tanpo Waton

Astaghfirulloh…Robbal baroyaah….
aku memohon ampun kepada Allah,Tuhan Maha Penerima Taubat

Astaghfirulloh…Minal Khothoyah….
aku memohon ampun kepada Allah dari segala dosa  

Robbi zithni..’ilmannafii’aa…
Tuhanku,tambahkan kepadaku ilmu yang bermanfa’at

Wawaffiqni…’Amalaan sholikha….
dan berikanlah kepadaku amal yang shalih

Ya roshulalloh..salam mun’alaika…
keselamatan atasmu wahai Rasulullah

Ya rofi’asyaaniwaddaarojii….
wahai yang sangat tinggi martabat dan derajatnya

‘Athfataiyajii rotal’alaami…
Rasa kasihmu wahai pemimpin  tetangga

Ya Uuhailaljudiwalkaromi…..2X
wahai ahli dermawan dan pemurah hati

Makna :
Di awal bait, tepatnya larik pertama terdapat lantunan berupa permintaan ampunan terhadap Allah SWT yang Maha Penerima Taubat atas segala dosa yang dilakukan. Di larik ke dua, terdapat do’a untuk diberi tambahan ilmu yang bermanfa’at dan juga amal shalih. Di larik ke tiga, terdapat ucapan salam yang disampaikan terhadap Rasulullah SAW yang sangat tinggi martabat dan derajatnya. Dan di larik ke empat terdapat sanjungan kepada Rasul SAW atas sifatnya yang dermawan dan pemurah hati.

Jadi,dalam bait pertama Syiir Tanpo Waton berisi tentang permintaan ampunan,do’a,salam kepada Rasul,dan sanjungan kepada Rasul.

Ngawiti ingsun…nglara syi’iran…
Aku memulai menyanyikan syair 

Kelawan muji pareng pengeran…
dengan memuji kepada Tuhan

Kang paring rohmat lan kenikmatan…
yang telah memberikan Rahmat dan kenikmatan

Rino wengine….tanpo pitungan….2X
siang dan malam tanpa perhitungan

Makna :
Di dalam bait kedua,  pengarang memulai syiirnya dengan memuji kepada Tuhan yaitu Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kenikmatan kepada kita di waktu siang atau di waktu malam dan itupun tanpa perhitungan. Berbeda dengan kita, yang sering memperhitungkan barang yang kita berikan terhadap orang lain. Padahal, segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah.

Duh bolo konco…prio wanito….
Wahai para teman pria dan wanita

Ojo mung ngaji syare’at bloko….
jangan hanya belajar ilmu syariat saja

Gur pinter dongeng nulis lan moco…
Hanya pintar bicara,menulis dan membaca

Tembe mburine…bakal sangsoro….2X
esok hari akan sengsara

Makna :
Di dalam bait ke tiga, pengarang berpesan kepada semua orang baik laki-laki ataupun perempuan supaya tidak hanya belajar ilmu syari’at saja. Namun hendaknya juga mempelajari ilmu pengetahuan teknologi. Sehingga, terjadi keseimbangan antara ilmu dunia dan di akhirat. Menurut  Imam Al-Ghazali, orang yang hanya ahli dalam ilmu agama saja,maka orang tersebut didibaratkan seperti orang pincang pincang. Namun,jika hanya ahli dalam ilmu dunia saja, maka orang tersebut diibaratkan seperti orang yang buta.

Akeh kang apal….Qur’an Hadist e…
Banyak yang hafal Al Quran dan Hadits

Seneng Ngafirkeh marang liyane…
senang mengkafirkan kepada orang lain

Kafir e dewe Ga’ di gatekke…
Kafirnya sendiri tidak dihiraukan

Yen isih kotor…ati akale…2X
jika masih kotor hati dan akalnya

Makna :
Di dalam bait ke empat, pengarang berpendapat bahwa banyak ornag yang hanya menghafal Al Quran dan Hadits tidak dengan makna atau kandungan di dalamnya atau hanya pemahaman tekstualis saja. Sehingga, hafalan tersebut hanya di gunakan untuk mengkafirkan orang lain. Dan anehnya kesalahannya sendiri tidak pernah diketahui. Sesuai dengan peribahasa “semut di seberang lautan tampak,gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Gampang kabujuk…Nafsu angkoro…
Gampang terbujuk nafsu angkara 

Ing pepaese Gebyare ndunyo….
dalam hiasan gemerlapnya dunia

Iri lan meri sugi e tonggo…
iri dan dengki kekayaan tetangga

Mulo atine…peteng lan Nisto…2X
Maka hatinya peteng lan nisto

Makna : 
Di dalam bait ke lima, pengarang menyampaikan bahwa orang yang tidak kuat imannya maka akan dibutakan oleh gemerlapnya perhiasan dunia atau orang tersebut menjadi cinta dunia sehingga melupakan urusan akhiratnya dan juga menyebabkan perasaan iri dan dengki terhadap orang lain yang lebih beruntung daripada kita. KH Muhyiddin Abdusshomad berkata “harta cukup di tangan, tidak di hati,”. Maka dari itu, bukannya tidak boleh mencari dunia, tapi sampai melebihi batas sehingga membutakan mata hatinya.

Ayo sedulur…Jo nglale ake…
Ayo saudara jangan melupakan

Wajib e ngaji sak pranatane…
wajibnya megaji lengkap dengan aturannya

Nggo ngandelake iman Tauhid e…
Untuk mempertebal iman tauhidnya

Baguse sangu…mulyo matine…2X
bagusnya bekal mulia matinya

Makna :
Di dalam bait ke enam, pengarang mengajak untuk tidak melupakan wajibnya mengaji dengan aturan-aturannya. Tidak hanya mengaji sembarangan sehingga ilmunya tidak bermanfa’at. Dengan mengaji tersebut iman tauhid kita akan tebal dan kokoh. Sehingga, kita mempunyai bekal yang cukup untuk melakukan perjalanan di akhirat.

Kang aran sholeh…bagus atine…
Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya

Kerono mapan sari ilmune…
karena mapan lengkap ilmunya

Laku torekot lan ma’rifate…
Menjalankan tarekat dan makrifatnya

Ugo hakekot…manjing rasane…2X
juga hakikat meresap rasanya

Makna :
Di dalam bait ke tujuh, pengarang mendifinisikan orang shalih adalah orang yang bagus hatinya, ilmunya baik, menjalankan thariqat, dan mencapai hakikat.

Thariqat adalah jalan /cara implementasi syariat. Yaitu cara yang ditempuh seseorang menuju Allah SWT atau usaha pendekatan terhadapNya.

Makrifat adalah pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah SWT, mengenalkan rintangan dan halauan yang ada dalam proses pendekatan diri kepada Allah SWT.

Hakikat adalah akhir perjalanan mencapai tujuan dalam proses pendekatan diri kepada Allah SWT.

Alqur’an kodhim…wahyu minulyo…
Al Quran qodim wahyu mulia

Tanpo tinulis iso diwoco…
tanpa ditulis bisa di baca

Iku wejangan guru waskito…
Itulah petuah guru yang mumpuni

Den tancep ake ing njero dodo…2X
segera tancapkan di dalam dada

Makna :
Al Quran adalah kitab Allah SWT yang terakhir dari empat kitab Allah yang ada. Al Quran diturunkan melalui malaikat Jibril AS kepada Rasulullah Muhammad SAW yang ummi (buta huruf). Di larik pertama bait ke delapan ini pengarang membantah anggapan bahwa Al Quran dikarang oleh Nabi Muhammad SAW, akan tetapi Al Quran memang diciptakan oleh Allah SWT semata. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW dapat mengarang karangan setingkat Al Quran tersebut.

Al Quran merupakan pedoman hidup bagi manusia, maka dari itu pengarang berpesan untuk menancapkan Al Quran tersebut ke dalam dada. Maksudnya, mengamalkan isi kandungan Al Quran di dalam kehidupan kita.

Kumantel ati…lan pikiran…
menempel di hati dan pikiran

Mrasuk ing badan kabeh njeroan…
merasik dalam badan dan seluruh hati

Mukjizat rosul dadi pedoman…
mukjizat Rasul jadi pedoman 

Minongko dalan…manjing e iman…2X
sebagai sarana masuknya iman

Makna :
Di dalam bait ke Sembilan ini, pengarang  menjelaskan bahwa ketika Mukjizat Rasulullah SAW yaitu Al Quran sudah melekat di hati dan fikiran seseorang. Maka iman telah masuk kepada orang tersebut yang telah menjadikan Al Quran sebagai sarana masuknya iman. Sungguh beruntung orang tua yang memiliki anak yang dapat membaca dan mengamalkan isi Al Quran. Karena di dalam Hadits  disebutkan.

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا (رواه أبو داود)

“Hadis dari Sahl bin Muadz Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya (mengamalkannya), maka kedua orang tuanya pada hari kiamat nanti akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari pada sinar matahari di dalam rumah-rumah didunia, jika matahari tersebut ada diantara kalian, maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang melaksanakan isi Al Qur’an?’ (H.R.Abu Daud).

Kelawan Alloh…Kang maha Suci…
Kepada Allah Yang Maha Suci 

Kuduh rangkulan rino lan wengi…
harus mendekatkan diri siang dan malam

Di tirakati di riadhoi…
Diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ikhlas

Dzikir lan suluk jo nganti lali…2X
dzikir dan suluk jangan sampai lupa

Makna :
Di dalam bait ke sepuluh, pengarang memaparkan bahwa apabila kita harus mendekatkan diri kepada Allah baik di waktu siang ataupun malam secara ikhlas,tirakat(meninggalkan hal yang nyaman di dalam urusan dunia), dzikir dan suluk(menempuh jalan spiritual menuju Allah). Dengan itu semua insya Allah kita akan mendapatkan ridanya. Amin

Urip e ayem…rumongso aman…
hidupnya tentram merasa aman 

Dununge roso tondo yen iman…
mantapnya rasa tandanya beriman

Sabar nerimo snajan paspasan..
Sabar menerima meski hidup pas-pasan

Kabeh tinakdir saking pengeran…2X
semua itu takdir dari Tuhan

Makna :
Di dalam bait ke sebelas, pengarang menjelaskan bahwa ketika iman sudah mantap, maka hidup kita akan tentram, dan akan diberi kesabaran meskipun dengan hidup pas-pasan. Karena semua takdir itu berasal dari Tuhan. Tugas kita hanya berusaha dan berdo’a, soal hasil serahkan kepada Allah SWT. Seperti yang dikatakan Ibnu Athaillah As Sakandari di dalam kitab Al Hikam “besarnya semangat tidak akan bisa menerobos kokohnya dinding takdir,”.

Kelawan konco…dulur lan tonggo…
Terhadap teman, saudara dan tetangga 

Kang podo rukun ojo daksio…
yang rukunlah jangan bertengkar

Iku sunnah e rosul kang mulyo…
Itu sunnahnya Rasul yang mulia

Nabi muhammad…panutan kito…2X
Nabi Muhammad tauladan kita

Makna :
Di dalam bait ke duabelas, pengarang berpesan kepada kita sesama manusia untuk selalu hidup rukun. Meskipun berbeda agama, ras, suku, dan lain sebagainya, kita harus tetap berbuat baik. Seperti perkataan Almarhum KH Abdurrahman Wahid “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agamamu,”. Dan juga, menurut pengarang hidup rukun merupakan sunnah Rasul SAW yang menjadi suri tauladan kita. Dengan hidup rukun, maka hidup kita akan aman dan tentram.

Ayo nglakoni…sekabeane…
Ayo jalankan semuanya 

Alloh kang bakal ngangkat drajate…
Allah yang akan mengangkat derajatnya

Senajan ashor toto dhohire…
Walaupun rendah tampilan dohirnya

Ananging mulyo makom drajat e…2X
namun mulia maqom derajatnya di sisi Allah

Makna :
Di dalam bait ke tigabelas, pengarang mengajak kita untuk melakukan perintah dan larangan Allah SWT. Ketika kita telah melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah yang akan mengangkat derajat kita. tidak masalah walaupun tampilan dohir kita rendah di mata mkhluq, namun di sisi Allah kita mendapatkan derajat yang tinggi. Dan orang zaman sekarang banyak menilai orang lain di sisi dohirnya saja, atau hanya meilhat bungkusnya saja tanpa menilai isinya juga.

Lamun palastro…ing pungkasane…
ketika ajal telah datang di akhir hayatnya

Ora kesasar roh lan sukmane…
tidak tersesat roh dan sukmanya

Den gadang Alloh syuargo manggone…
Dirindukan Allah surga tempatnya

Utuh mayite…ugo ules…2X
utuh jasad juga kain kafannya

Makna :
Di dalam bait terakhir, ke empat belas, pengarang menyampaikan bahwa ketika kita sudah bertaqwa seperti yang telah dijelaskan dalam bait sebelumnya, yaitu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, maka ketika ajal telah menjemput, roh dan sukma kita tidak akan tersesat. Dan juga, kita telah dirindukan oleh Allah SWT sehingga kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Dan jasad yang terkubur akan dijaga oleh Allah SWT, sehingga jasad dan kain kafannya tidak rusak.

Ya roshulalloh..salam mun’alaika…
keselamatan atasmu wahai Rasulullah

Ya rofi’asyaaniwaddaarojii….
wahai yang sangat tinggi martabat dan derajatnya

‘Athfataiyajii rotal’alaami…
Rasa kasihmu wahai pemimpin  tetangga

Ya Uuhailaljudiwalkaromi…..2X
wahai ahli dermawan dan pemurah hati

Makna atau arti Syiir Tanpo Waton yang berada di kalangan masyrakat. Syiir Tanpo Waton banyak sekali yang kita ambil dan kita amalkan. Sehingga kita akan hidup bahagia di dunia dan di akhrat.
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama